Geguritan: Seni Sastra Bali yang Menakjubkan

Posted on

Indonesia kaya akan seni dan budaya yang beragam. Salah satu seni sastra yang unik dan menarik dari Bali adalah geguritan. Geguritan adalah puisi Bali yang diucapkan secara lisan dan dinyanyikan dengan iringan gamelan. Geguritan biasanya digunakan dalam upacara keagamaan, seperti upacara Ngaben atau kematian di Bali.

Sejarah Geguritan

Geguritan sudah ada sejak zaman Hindu-Budha di Bali. Pada masa itu, geguritan digunakan untuk memuji dewa-dewa dan raja-raja Bali. Namun, seiring berjalannya waktu, geguritan juga digunakan untuk menceritakan kisah-kisah rakyat dan kejadian-kejadian sehari-hari.

Pada masa kolonial Belanda, geguritan sempat mengalami penindasan karena dianggap sebagai simbol kebudayaan Bali yang harus dihapuskan. Namun, geguritan berhasil bertahan dan kembali populer pada masa kemerdekaan Indonesia.

Unsur-unsur dalam Geguritan

Geguritan terdiri dari beberapa unsur, antara lain:

  • Parikan: bagian awal geguritan yang berisi pengenalan tema atau topik yang akan diangkat
  • Gatra: baris puisi dalam geguritan
  • Wilangan: jumlah suku kata dalam setiap baris puisi geguritan, biasanya delapan atau sembilan suku kata
  • Uggrasen: baris puisi terakhir yang berisi pesan moral atau kesimpulan dari geguritan

Contoh Geguritan

Berikut adalah contoh geguritan berjudul “Jagat Bali”:

Parikan:

Jagat Bali, jagat anyar

Nyoman, Ketut, Made, Kadek

Bhineka Tunggal Ika

Gatra:

Bali, pulau sejuta pura

Hijau, subur, dan indah

Masyarakatnya ramah dan santun

Selalu menjunjung tinggi adat dan budaya

Jagat Bali, jagat anyar

Nyoman, Ketut, Made, Kadek

Bhineka Tunggal Ika

Wilangan:

8-8-8-8-8-8-8-8-9-9-9-9-9-9-9-9-8-8-8-8-8-8-8-8-9-9-9-9-9-9-9-9

Uggrasen:

Hargai adat dan budaya Bali

Jaga kelestarian alam dan lingkungan

Bersatu dalam perbedaan

Jagat Bali, jagat anyar

Nyoman, Ketut, Made, Kadek

Bhineka Tunggal Ika

Keindahan dan Keunikan Geguritan

Geguritan memiliki keindahan dan keunikan tersendiri. Dalam geguritan, tidak hanya terdapat keindahan dalam kata-kata dan bahasa, tetapi juga dalam irama dan melodi gamelan yang mengiringi. Selain itu, geguritan juga memiliki nilai moral dan pesan yang dapat diambil oleh pendengar atau pembaca.

Keunikan geguritan juga terletak pada pengucapannya yang membutuhkan teknik dan keahlian khusus. Pengucapan geguritan harus mengikuti irama dan melodi gamelan dengan tepat agar dapat terdengar indah dan merdu.

Perkembangan Geguritan di Era Modern

Di era modern, geguritan masih tetap populer di Bali. Namun, geguritan juga mulai dikembangkan dengan berbagai inovasi, seperti penggunaan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Inggris dalam geguritan. Hal ini dilakukan untuk menarik minat generasi muda yang tidak terlalu mengenal bahasa Bali.

Selain itu, geguritan juga mulai dipertunjukkan di luar Bali, baik dalam acara kebudayaan di Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini dapat meningkatkan apresiasi terhadap kebudayaan Bali dan geguritan sebagai bagian dari kebudayaan tersebut.

Kesimpulan

Geguritan adalah seni sastra Bali yang menakjubkan. Dengan penggunaan bahasa Bali yang indah dan irama gamelan yang merdu, geguritan dapat memukau pendengar dan pembaca. Keunikan dan keindahan geguritan juga terletak pada pesan moral dan nilai yang terkandung di dalamnya. Meskipun geguritan sudah ada sejak zaman Hindu-Budha di Bali, tetapi geguritan masih tetap populer hingga saat ini dan terus dikembangkan dengan berbagai inovasi.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments